Saturday, 17 May 2014

KJ7: NEAR DEATH EXPERIENCE

Entry blog Gw kali ini agak menyeramkan dari biasanya. Ini kejadian tadi siang, saat menangani kasus di Kejhe Sewen.

Jadi ceritanya 8.15 a.m. Gw masuk hutan bersama 2 orang lainnya untuk menangani sesuatu. Sampai di site setelah berjalan kaki selama 45 menit. Kemudian Gw melakukan apa yang harus dilakukan di sana. Pada saat kegiatan amat sangat banyak tawon di sana yang menghinggapi kita. Tawon-tawon itu memang ngga tahu diri, hinggap nggak diundang, pas kena gesek sedikit langsung menyengat.

Selama 2 jam di sana nggak kehitung berapa kali gw disengat. Biasanya kalau cuma disengat tawon reaksi Gw cuma gatal-gatal, tapi ternyata kali ini lain. Saking banyaknya sengatan, seluruh tubuh Gw bereaksi dengan venom si tawon, dan terjadi reaksi alergi!!!

Awal yang Gw rasakan adalah gejala gatal di seluruh tubuh. Karena amat sangat nggak nyaman, Gw pamit duluan untuk kembali ke Camp dan ambil CTM. Barang bawaan Gw titip dulu di site supaya bisa cepat sampai Camp, karena gatal mulai nggak kekontrol. Tadinya kepikiran buat minta satu orang temenin Gw balik kw Camp, tapi karena sotoy Gw, nekatlah Gw sendirian ke Camp. Dan Gw salah besar...

Seperempat perjalanan Gw mulai ngerasa sesak nafas. Pikiran Gw pun langsung curiga, jangan-jangan Gw mengalami delayed anaphylactic shock! Gw pun mulai panik, tapi berusaha tenang supaya nggak memperburuk keadaan. Gw sempet berhenti untuk menggaruk seluruh tubuh yang gatalnya makin menggila, sambil berfikir untuk nggak buang-buang waktu.

Kesalahan Gw berikutnya, barang yang Gw tinggal adalah semuanya, termasuk air minum dan snack. Hampir setengah jalan, Gw dilanda dehidrasi. Gw cuma istirahat sebentar, nggak mau buang waktu lebih banyak, melawan rasa lelah yang luar biasa karena sesak nafas.

Setengah perjalanan ditandai dengan adanya jalur trans rimba yang menuju Camp dan sungai kecil. Gw langsung minum dari sana dan beristirahat sebentar. Saat berjalan, Gw merasa sepatu boot yang Gw pake amat berat. Boot itu Gw lepas dan Gw tinggal di pinggir jalan. Pikir Gw, peduli amat, Gw ngga boleh game over di sini!

Sungai tempat Gw minum

Tapi apa mau dikata, 10 meter berjalan kaki setelah membuang Boot, Gw ambruk. Tiap Gw berusaha bangun, mata Gw berkunang-kunang. Gw langsung tahu ada yang nggak beres.

Tempat Gw rebahan. Sekitar 10 meter di depan adalah tempat Gw buang sepatu boot

"Sitmen, hipoglikemia" pikir Gw. Inilah puncak penyesalan Gw nekat balik sendiri. Setengah pasrah, Gw rebahan di jalan. Entah berapa lama Gw berebah, Gw mulai mikir aneh-aneh. Dengan Gw rebahan di situ, Gw berharap orang nantinya nggak susah kalau harus cari Gw.
Gw mendengar semua suara yang awalnya Gw acuhkan. Suara serangga, suara hewan-hewan, suara sungai. Gw sadar, tempat ini adalah apa yang disebut sebagai 'tranquility'. Kemudian Gw sadar, Gw mesti bertahan. Eksistensi Gw bukan cuma milik Gw. Dan juga kelebatan memori saat Gw mendaki Puncak Pangrango, dimana keadaannya sama, hanya saat itu Gw bawa beban yang nggak sedikit, jadi motivasi Gw buat lanjut jalan. Gw harus survive.

Pemandangan yang Gw lihat saat rebahan. Ah, kalau saja nggak lagi nyaris mati...

Akhirnya Gw lanjut. Berjalan hanya memakai kaus kaki sebagai pijakan, Gw memilih lewat bagian jalan yang berlumpur lembut. Sambil mata Gw menyisir tepi jalan, berharap ada arbei hutan yang bisa jadi sekadar energi untuk melangkah satu langkah lagi, yang ternyata cuma harapan kosong. Ngga ada arbei hutan yang lagi berbuah.
Perjalanan Gw ke Camp masih cukup jauh. Gw masih harus melewati dua sungai kecil, mungkin lebih tepatnya parit. Setelah lewat parit pertama, tiba-tiba mata Gw berkunang-kunang lagi. Akhirnya Gw kembali rebahan di tengah jalan untuk mengumpulkan sisa-sisa tenaga. Kali ini juga Gw ngga tahu berapa lama Gw berbaring, tetapi selama berbaring Gw ngga tidur seperti saat pertama. Setelah itu Gw bangun, reaksi anafilaktik makin terasa, karena rasa gatal makin hebat dan nafas Gw makin sesak. Gw tahu batas waktu Gw sebelum shock nggak banyak. Gw bangun dan terus berjalan. Mindset Gw adalah makin cepat sampai Camp, makin cepat Gw bisa istirahat. Gw cuma berhenti sejenak di parit kedua untuk minum.

Parit tempat minum. Lumayan daripada lumanyun.

Gw terus berjalan sampai Gw lihat pohon kering yang amat besar yang ada di kiri kanan jalan, yang merupakan pertanda bahwa Camp akan terlihat di tikungan berikutnya. Entah kenapa, pohon itu terlihat amat majestic. Mungkin karena warnanya yang putih seperti pualan, atau karena dua pohon tersebut memberitahu dengan kehadirannya bahwa Camp sudah dekat, entahlah.

Such trees, much majestic~

Setelah Camp terlihat, Gw mempercepat langkah dengan sisa-sisa tenaga terakhir. Saat sampai Camp Gw langsung buka kaus kaki yang sudah basah oleh lumpur dan kembali berbaring sejenak. Kemudian Gw langsung bangun dan terhuyung-huyung ke tempat penyimpanan obat dan mencari CTM. Setelah ketemu, Gw langsung tenggak satu pil, ganti baju dan kemudian bergulung di tempat tidur. Gw melihat jam, 1.00 p.m., yang berarti Gw berjalan sampai Camp memakan waktu 2 jam.
Nggak lama Gw bangun lagi karena Gw masih harus membreskan hipoglikemia Gw. Gw pun menyeret badan Gw untuk bikin teh manis. Saat sedang bikin teh manis, Gw sempat jongkok dua kali karena mata Gw makin berkunang-kunang. Setelah itu Gw kembali ke tempat tidur setelah menyeruput sedikit teh manis tadi.
Gw cuma bergulung di tempat tidur, berusaha untuk nggak menahan gatal yang makin menjadi karena obat yang belum bereaksi. Belum lagi sesak nafas yang membuat apapun posisi berbaring terasa tidak nyaman. Hipoglikemia dikombinasi dengan sakit kepala yang melanda saat Gw sampai di Camp membuat Gw nggak sadar perjalanan waktu. Saat Gw lihat jam, sudah hampir jam 4 sore. Karena nafas yang masih sesak akhirnya Gw meminta OxyCan. Setelah beberapa kali hirup, nafas Gw lumayan plong. Kemudian Gw juga minta beberapa snack sebagai pengisi energi, karena dalam keadaan sekaran Gw susah makan nasi. Sekarang pun Gw masih lemes, tapi seenggaknya udah jauh lebih baik.
Demikian tulisan Gw, kalau ada yang nggak percaya ya tak apa.
Percaya atau nggak, Gw masih hidup.
-4.44 pm, KJ7-

Wednesday, 9 April 2014

Wildlife as Pet?

(http://www.dailymail.co.uk/)

Mungkin masih segar di ingatan tentang selfie si Rihanna yang membuat geger dunia persilatan ini. Fotonya dengan kukang menuai banyak kecaman, sampai pemerintah Thailand mengambil tindakan dan menangkap penjual satwa ini serta melakukan razia terhadap tempat-tempat yang menyediakan jasa foto dengan hewan langka ini.

Sebelum berlanjut, lebih baik kalau kita ngerti apa definisi satwaliar dilindungi itu. Salah dua kriteria yang sering dipakai yaitu IUCN Red List dan CITES (Convention on International Trade in Endangered Species). Keduanya memiliki kriteria masing-masing dalam menentukan perlindungan terhadap satwa. Jika IUCN melihat melalui sisi populasi dan ekologinya, CITES melihat dari sisi perdagangannya.

Gw mengambil contoh dari kukang aja. Kukang menurut IUCN Red List termasuk dalam critically endangered (Nycticebus javanicus) dan vulnerable (Nycticebus spp selain javanicus). Singkatnya, critically endangered berarti terjadi penurunan populasi yang ekstensif dan juga penghancuran habitat. Dan pada vulnerable juga terjadi hal yang sama, hanya saja tidak separah critically endangered. Sedangkan dalam CITES, Nycticebus spp masuk dalam appendix I, yang artinya perdagangan/pertukaran spesimen hanya diizinkan dalam keadaan tertentu (misal penelitian).

Penyebab utama kukang terancam populasinya adalah popularitasnya sebagai pet animal. Tampangnya yang plonga-plongo serta unyu-unyu menjadi pemicu laku kerasnya hewan ini. Mungkin udah banyak dibahas, tetapi nggak salah kalau ditulis lagi apa aja perlakuan seller kukang ke barang jualannya.

Transportasi
Karena termasuk hewan dilindungi, transportasi kukang pun dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Pernah sekali waktu diberitakan di televisi orang yang mengangkut kukang yang disembunyikan dalam muatan spare parts kendaraan bermotor. Seperti inilah umumnya transportasi kukang, jauh dari animal wellfare. Berdesakan dalam kandang yang kecil.

Berdesakan dalam kandang kecil. Dipastikan ada yang mati saat transportasi. (wikimedia.org)

Cabut (potong?) gigi
Bak zaman abad pertengahan, sang penadah hewan selalu punya cara untuk menyiksa barang jualannya. Setelah transportasi yang mempertaruhkan nyawa, sang kukang harus menghadapi prosesi cabut -tepatnya potong- gigi. Ada yang menggunakan tang, ada pula yang menggunakan gunting kuku (WTF?). Nggak perlu tercabut habis, yang penting taring tajamnya nggak bisa nancep lagi. Tindakan ini sering mengakibatkan terjadinya infeksi mulut kukang, yang ujung-ujungnya ya mati.

Medieval Torture #37: tooth cutting (wikimedia.org)

Display
Layaknya barang jualan, si kukang dipamerkan untuk dijual. Mirisnya, seringkali kegiatan ini dilakukan tengah hari bolong. Padahal kukang termasuk hewan nokturnal yang beraktivitas malam hari dan istirahat pada siang hari. Sudah pasti hal ini akan berdampak pada hewan, membuatnya stress. Belum lagi yang menjualnya dengan cara menaruhnya di tongkat dan diputar-putar agar kukang pusing dan tidak banyak melawan.

Nah ini, diputer-puter (www.sumedangdailyphoto.com)

Dipelihara(?)
Titik terendah dari kehidupan si kukang. Jika pada manusia terjadi dehumanizing (menganggap dan memperlakukan manusia bukan lagi selayaknya manusia), mungkin pada kukang terjadi deanimalizing. Pertama, kapan owner bangun, si kukang akan dipaksa bangun untuk diajak bermain. Setahu saya amat sangat jarang orang yang hidupnya nokturnal di dalam rumah, ngajak main peliharaannya malem-malem. Si kukang dipaksa merubah siklus Circardian 180 derajat. Belum lagi menu makanan suka-suka si owner.

Pernah Gw konfrontir beberapa owner kukang di salah satu grup di FB, Kukang Lovers (note: grupnya sekarang secret, dan Gw udah di-kick. Grup yang ketemu pas di-search bukanlah grup yang Gw maksud. Kalau ketemu yang nama adminnya Siska Ardhita Yofthie, itulah grupnya) kenapa pelihara kukang. Jawabannya amat sangat hipokrit; daripada diburu di alam mending kita pelihara. Hellaaaawh, lu pikir kukang piaraan lw ditanem di sawah? Tumbuh dari pohon yang dibudidayakan secara organik? Dari mana lagi dapet kukang kalau nggak diburu? Lalu ada lagi jawaban, mending dipelihara kita, aman bisa berkembang, di alam susah. Helllawwwh lagi, kalau bisa ngomong gitu kenapa peliharanya sembunyi-sembunyi? Kalau lw emang capable kenapa ngga minta surat yang menyatakan negara menitipkan hewan tersebut ke lw? Itu bukti bahwa mereka yang pelihara kukang adalah hipokrit kelas satu!

Hahh, itulah opini Gw tentang hewan satu ini. Buat kalian Kukang Lovers sejati, kalau benar cinta biarkan mereka hidup di alamnya. Bantu kelestariannya, jadi volunteer untuk meneriakkan kebebasan mereka yang tidak bisa bicara. Jikalau ingin melihat kukang, pergilah ke tempatnya, lihatlah mereka langsung di hutan. Dengan begitu lw akan lebih menghargai si kukang dan juga habitatnya.

SALAM LESTARI

Sunday, 6 April 2014

Tigers


Harimau.

Bagi Gw, inilah salah satu adanya bukti cinta sejati. Gw awalnya cuma suka sama semua yang berbau laut, wild aquatic. Buat nonton film dokumenter non-aquatic aja males, gimana mau suka sama satwa non-aquatic. Kontak pertama dengan harimau terjadi saat mau bikin skripsi. Waktu cari pembimbing buat skripsi, pilihan jatuh kepada pembimbing Himpro Satwaliar, drh. Ligaya ITA Tumbelaka, SpMP, MSc. Dan karena beliau dikenal sebagai ahli harimau, Gw memutuskan untuk meneliti tentang harimau. Judul skripsi Gw adalah Perbedaan Litter Size dan Musim Kawin antara Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan Harimau Siberia (Panthera tigris altaica).

Dari ngerjain ini skripsi Gw tau kalau subspecies harimau itu ada 9. Tiga diantaranya udah jadi korban keserakahan manusia. Penyebabnya apalagi kalau bukan perburuan. Bahkan lebih parah Harimau Bali (Panthera tigris balica) sengaja diburu hingga punah karena diyakini merupakan jelmaan roh jahat. Mungkin pemburu-pemburu itu nggak sadar, tapi sebenarnya merekalah roh jahat tersebut *hiks*

Terkait dengan habisnya Harimau Bali karena alasan mistis, harimau lain pun sama terancamnya seperti Harimau Bali. Terutama para pelaku spiritual memburu harimau untuk mendapatkan taring dan tulang singkal. Selain itu, obat-obatan Tiongkok pun meningkatkan permintaan bagian tubuh harimau, karena diyakini berkhasiat untuk mengobati penyakit.

Penyebab lain kemerosotan populasi harimau yaitu konflik dengan manusia. Konflik ini terjadi karena habitat harimau (hutan) terkikis atau terfragmentasi sehingga terkadang harimau harus menyeberangi teritori manusia untuk menuju potongan hutan lainnya. Pemasangan jerat oleh pemburu pun mengancam harimau. Jerat tersebut mungkin diperuntukkan bagi babi hutan atau hewan lainnya, tetapi harimau yang tidak beruntung dapat terjebak di sana. Dan parahnya, jerat tersebut tidak setiap hari diperiksa, sehingga kemungkinan sang harimau dapat terjerat berhari-hari tanpa makan dan minum.

Sebagai cat lover, Gw amat sangat menyayangkan kalau adorable beast ini mesti punah. Menurut statistik, dengan laju penurunan populasi seperti ini, dalam 15 tahun harimau akan punah *hiks lagi*

Satu hal yang Gw harap nggak akan pernah terjadi adalah suatu saat ada yang bertanya judul skripsi Gw, kemudian dia menjawab:
"wah, bapak meneliti fosil?"


SAVE TIGERS!

Saturday, 21 September 2013

Exorcism and Quantum Theory

Yang satu mistis, yang satu sains. Bagaimana kedua hal ini bersatu? Jawabannya mungkin baru aja Gw temukan di Borneo...

(Dari www.theofantastique.com)

Awal kisah, kemarin malam Gw diajak buat ke rumah seorang karyawan BOSF Samboja yang sedang berulang tahun. Di sana kita makan-makan dan ngobrol. Kemudian seorang tamu bicara ke temannya bahwa minta tolong untuk dicarikan dompet temannya yang hilang, permintaan yang menurut saya biasa-biasa saja. Kemudian tamu tersebut, yang ternyata dipanggil Pak Tua, mengambil minyak wangi. Awalnya Gw pikir dia akan memijat temannya itu, karena memang dia sedang bengkak kakinya. Pijatan dilakukan lembut di daerah tengkuk, dan kemudian orang yang dipijat kejang-kejang! Setelah itu baru Gw tahu bahwa permintaan tolong tadi adalah untuk menjadi mediator yang akan memanggil makhluk yang dapat menolong. Dari pembicaraan Pak Tua dengan mediator Gw tahu nama makhluk tersebut adalah Singo Barong.

Topeng Reog yang menggambarkan Singo Barong (reogponorogojakarta.blogspot.com)

Kemudian dilakukanlah penerawangan oleh Pak Tua dan Singo Barong. Tetapi terdapat kendala karena Singo Barong tidak dapat berbicara. Akhirnya Singo Barong dikeluarkan, kemudian majulah mediator lain, seorang wanita. Makhluk yang merasukinya adalah Nenek Sulis. Dia mati pada usia 15 tahun dan telah berumur lebih dari 200 tahun. Jika ada yang pernah mendengar tawa kuntilanak asli, saya adalah salah satunya. Nenek Sulis senang bercanda dan lebih enak diajak mengobrol, hal ini mengurangi kengerian saya atas tawanya yang dilakukan pada awal dia masuk. Lalu dilakukan penerawangan dan dilihat dompet tersebut serta orang yang menemukannya (dompet tersebut terjatuh di jalan). Pak Tua kemudian meminta agar orang tersebut dibuat mengembalikan dompetnya dengan cara dibuang di satu tempat yang telah ditentukan. Setengah jam kemudian orang yang meminta tolong menelepon bahwa dompetnya ditemukan di dekat selokan depan rumahnya.

Oke, tadi adalah bagian mistisnya. Lalu apa kaitannya dengan Teori Quantum?

Bagian yang Gw kaitkan dengan teori quantum adalah saat Pak Tua melakukan penerawangan. Apa yang dilihatnya saat itu adalah hal yang akan terlihat apabila dia berada di tempat yang diterawang. Dalam teori quantum ada yang namanya Quantum Entanglement. Singkatnya adalah ketika dua elektron (A dan B) berada dalam keadaan entangle (nyangkut satu sama lain mungkin bahasa Indonesianya), apa yang terjadi pada elektron A akan terjadi pada elektron B, berapapun jauh jaraknya. Jadi apabila elektron A berputar ke kanan, elektron B akan berputar ke kanan. Hal ini menjadi basic dari Telekomunikasi FTL (Faster Than Light). Secara teori dengan telekomunikasi FTL, komunikasi dapat dilakukan secara real time dari manapun di belahan bumi ini.

Mungkinkah bahwa makhluk yang dipanggil tadi memiliki kemampuan untuk membuat elektron dalam entangled state sehingga dapat dilakukan apa yang dinamakan "penerawangan". Mungkin para peneliti teori quantum tersebut perlu belajar ke Indonesia yang sejak dulu kala memiliki tradisi komunikasi quantum. Warisan budaya yang jauh melampaui pengetahuan para ilmuwan fisika di luar sana. Mungkin waktu akan menjawab, mungkin juga tidak...


Friday, 15 March 2013

Drug Addict

Judulnya lumayan noir lah ya, haha. Awal inspirasi dari kisah ini adalah saat Gw nonton National Geographic: Taboo (Narcotic). Kisahnya bakal Gw bagi di sini. Selamat menikmati :)

Jadi, Gw akan ceritakan apa yang Gw tonton. Hal yang diceritakan di sini adalah tentang narkotika, penggunaannya yang tabu di mata masyarakat. Pertama adalah sebuah sekte Gereja yang menggunakan semacam halusinogen saat ibadahnya. Halusinogen ini tidak memberi akibat kecanduan. Halusinasi yang terjadi bisa disamakan dengan efek jamur dari Genus Psylocybe. Kemudian ada penggunaan ganja untuk kepentingan medis. Kalau tau sama Snoop Dog, dia juga punya izin pemakaian ganja untuk alasan medis. Yang terakhir adalah suatu tempat di Kanada yang menyediakan fasilitas bagi pecandu narkotika suntik untuk menggunakan narkotika miliknya. Aneh? Simak ceritanya...

Awalnya di Kanada, tepatnya di Vancouver. Downtown Eastside (DTES) di Vancouver merupakan tempat bagi 4200 pengguna narkotika suntik kronis di tahun 2000. Karena jumlahnya yang besar, DTES dianggap sebagai pusat epidemik narkotika suntik. Overdosis narkotika dan juga penularan HIV karena penggunaan jarum suntik yang tidak steril menjadi masalah kesehatan masyarakat paling umum di daerah ini. Pada tahun 2003 dibukalah InSite, sebuah supervised injection site, yaitu tempat yang bisa dipakai oleh para pecandu narkotika suntik untuk memakai narkotika mereka. Supervised, karena di sini para pecandu diawasi oleh tenaga medis saat memakai narkotikanya. Para pecandu diberi akses untuk mendapatkan jarum suntik baru (yang tentu saja steril), kapas alkohol, pelarut steril, dan benda lainnya untuk menjamin kebersihan dan keamanan pemakaian narkotika suntik. 

"Pada tahun 2003 dibukalah InSite, sebuah supervised injection site, yaitu tempat yang bisa dipakai oleh para pecandu narkotika suntik untuk memakai narkotika mereka"

Walaupun semua sarana untuk memakai narkotika disediakan, tempat ini tidak menyediakan narkotika. Para pemakai harus membawa sendiri narkotika yang akan dikonsumsi. Sejak adanya InSite, kasus overdosis pun mulai berkurang di daerah ini, karena adanya petugas medis yang mengawasi pemakaian narkotika suntik di sana. Antara tahun 2004 hingga 2010 terjadi overdosis di InSite. Tetapi berkat pengawasan terhadap para pemakai narkotika di sini, semua kasus bisa diintervensi sehingga tidak terjadi kematian. Di lantai dua tempat ini terdapat OnSite, yaitu tempat rehabilitasi dan detoksifikasi dari narkotika. Tidak seperti di lantai satu, narkotika tidak diperbolehkan di lantai ini. Lantai ini menyediakan konseling dan perawatan bagi pecandu yang ingin berhenti dan melanjutkan hidupnya.

Yang menarik adalah konsep dari InSite, yaitu tempat bagi para pecandu untuk memakai narkotika mereka. Di manapun, pemakai narkotika adalah pelanggar hukum, sesuatu yang ilegal. Pecandu memakai narkotika secara sembunyi-sembunyi, sehingga injeksi pun dilakukan seadanya, sering hanya menggunakan jarum suntik bekas. Dan karena pemakaian yang tersembunyi, bahaya yang terjadi tidak akan bisa mendapat pertolongan pertama yang memadai, sehingga kasus overdosis yang berakibat kematian menjadi hal umum bagi para pemakai narkotika suntik. Di InSite, para pecandu diawasi saat memakai narkotika. Mereka memastikan prosedur injeksi yang lege artis, cara mengakses vena untuk injeksi, dan juga pertolongan pertama saat terjadi overdosis. Para petugas di sana tidak menghakimi para pemakai narkotika tersebut. Sebaliknya, para petugas di InSite mengakui bahwa para pemakai narkotika tersebut adalah orang-orang yang menarik dan juga menyenangkan. Petugas di sana melihat para pecandu ini sebagai manusia biasa. Para pemakai narkotika itu pun menjadi lebih terbuka pada petugas di sana. Petugas di InSite cukup takjub dengan beban hidup yang ditanggung oleh para pecandu. Walaupun begitu, para pecandu ini tetap dapat tertawa dan bercanda dengan petugas di sana. 

Tidak ada satupun dari mereka yang bercita-cita menjadi pecandu narkotika. Semua pemakai narkotika di sana adalah manusia biasa yang mencari cara untuk mengatasi beban hidup mereka. Salah satu dari pecandu tersebut ada yang terlahir dari seorang Pekerja Seks Komersial (PSK) dan hidup di penampungan. Lainnya mengalami hidup yang tidak kalah pahit. Apa yang mereka lakukan hanyalah cara untuk mencari sejumput kegembiraan di tengah pahitnya kehidupan. Mereka hanyalah manusia biasa yang kehilangan pegangan hidup. Narkotika bukanlah tujuan mereka, tetapi hanya sebuah bentuk pelarian. Tetapi masyarakat melihat narkotika sebagai akhir dari hidup mereka dan menjauhi mereka seakan penjahat.

"Apa yang mereka lakukan hanyalah cara untuk mencari sejumput kegembiraan di tengah pahitnya kehidupan"

Apa yang dilakukan di InSight adalah memanusiakan manusia. Mereka memberi jaminan keamanan bagi para pecandu saat mereka sesaat melarikan diri dari pahitnya dunia. Dan saat mereka melebihi batas, para petugas ada untuk menolong. Saat mereka mengalami overdosis di InSight, petugas secara sigap membantu memberi pertolongan darurat. Setelah terlepas dari cengkeraman maut akibat overdosis, banyak dari mereka yang melihat dirinya di cermin dan merasa bahwa ini adalah saatnya mereka untuk berhenti. Mereka yang ingin berhenti dari kecanduannya akan mendapat pertolongan di OnSite, tempat rehabilitasi narkotika yang berada di lantai dua InSite. Mereka akan mendapatkan konseling, fasilitas detoksifikasi dan bimbingan untuk kembali ke masyarakat dan melanjutkan hidup.

Terkadang stigma yang terlanjur terpatri di benak kita akan mempengaruhi cara kita berfikir. Secara umum kita akan mengasosiasikan pecandu narkotika dengan penjahat dan pelaku kriminal lainnya. Padahal ini hanyalah sebuah bentuk pelarian dari pahitnya kenyataan. Mereka pun butuh perhatian dan bimbingan. Ini juga menjadi pelajaran bagi kita tentang pentingnya memiliki pegangan dalam hidup. Para pecandu narkotika kehilangan pegangan hidup dan memakai narkotika sebagai solusi sementara bagi masalah yang permanen. Jika kita memiliki Tuhan sebagai pegangan hidup, niscaya sesulit apapun hidup akan dapat kita lalui dengan keyakinan pada-Nya. Membimbing mereka yang kehilangan pegangan hidup adalah tugas kita yang telah terlebih dahulu diselamatkan menuju jalan-Nya. Tidaklah patut kita yang hanya seorang manusia menghakimi manusia lainnya, karena sebaik-baiknya Hakim adalah Tuhan YME. Cara kontroversial yang dilakukan oleh InSight terbukti memanusiakan manusia dan membimbing mereka yang ingin berubah menjadi lebih baik.




Semoga tulisan ini membuka mata kita.

Friday, 8 March 2013

Cost of Humanity

Cerita ini Gw tulis setelah Gw pulang dari Bogor. Gw merasa perlu berbagi cerita ini karena mungkin suatu saat kalian bakal ngalamin. Atau lebih parah, kalian yang bakal jadi tokoh utama ceritanya...

Gw akan ceritain dari awal, kenapa Gw ke Bogor, kapan, dan semua sampai kejadian yang Gw alamin yang menurut Gw hikmahnya terlalu banyak buat disimpen sendiri. Karena kisah ini, semua yang Gw ceritakan, adalah cerminan masyarakat kita.

Awal Gw ke Bogor adalah saat Jum'at pagi. Gw ditelepon oleh seorang dokter hewan (drh) kakak kelas Gw, ditanya tentang CV dan surat lamaran Gw (Gw sedang dalam tahap lamaran kerja). Gw bilang kalau Gw baru sembuh dari sakit, jadi baru liat lowongannya. Lalu Gw berjanji dalam 1 jam akan Gw kirim CV dan surat lamaran Gw via e-mail. Jam 11 siang Gw ditelepon oleh drh kakak kelas Gw ini untuk memastikan jadwal wawancara. Setelah berbicara beberapa menit, akhirnya kita sepakat buat ketemuan dulu di Taman Koleksi Kompleks IPB Baranangsiang. Setelah sholat Jum'at Gw berangkat ke Bogor pake motor, dan sampai di sana jam 3 sore. Setelah bertemu dengan drh kakak kelas Gw, Gw dibawa ke Botani Square buat wawancara. Sekitar jam 5 wawancara selesai dan kita berpisah.

Dari sinilah cerita sebenarnya dimulai. Saat Gw mau pulang dan mau menyeberang dari Botani Square ke IPB, Gw melihat seorang nenek tua berbaju hijau berjalan gontai. Baru setelah Gw perhatikan, di tubuhnya terdapat banyak luka. Di atas sikunya, kulit terkelupas sekitar 5 senti lebih, di atas belikat kiri ada luka baret sepanjang kira-kira 10 cm, di atas belikat kanan juga ada luka, tapi lebih kecil. Kemudian di jari kaki juga ada luka. Awalnya dia keliatan kayak mau duduk, tapi tiba-tiba hampir terjatuh. Refleks lah Gw, Gw pegangin biar bisa duduk. Ternyata dari tadi orang-orang ngeliatin, tapi nggak bertindak apa-apa. Akhirnya setelah Gw kontak dengan si nenek, orang lain pun mendekat.

"Ya Allaah, ini nenek kenapa :'("

Plot twist: si nenek nggak bisa bahasa Indonesia, dia cuma bisa bahasa Sunda. Bertanyalah Gw sama kerumunan, adakah dari mereka yang bisa bahasa Sunda. Akhirnya seorang cewe maju dan bertanya pada nenek itu. Dia menanyakan dari mana nenek itu berasal dan mau ke mana. Tetapi nenek itu meracau ke sana ke mari. Orang-orang yang berkerumun merasa kasian dan memberi uang yang dikumpulkan ke Gw dan meminta Gw memberikan ke nenek itu. Nenek itu dapet lumayan banyak donasi dari orang-orang. Orang-orang yang kebingungan pun satu persatu pergi. Gw kasian liat si nenek, jadi Gw balik lagi ke dalem Botani Square dan pergi beli Betadine, kassa steril, dan plaster. Terus Gw lari lagi ke depan buat nyari itu nenek dan sedikit ngebersihin lukanya. Nenek itu diajak jalan ke suatu tempat sama satpam. Gw samperin lah itu satpam karena agak sedikit skeptis, selain karena mengingat luka si nenek yang cukup parah, sambil bilang "pak saya mau ngobatin lukanya, saya dokter." Si satpam awalnya ragu, tapi pas disebut kalau Gw dokter, dia nurut (Gw emang dokter loh. Dokter hewan juga kan bisa ketimbang bersihin luka aja). Akhirnya Gw temenin itu nenek, dia jalan nggak karuan ke mana-mana. Waktu Gw ikutin di belakangnya, baru keliatan kalau ada bekas darah yang mengering dari kepalanya. Ya Allaah, ini nenek kenapa :'(

"Dude! Ini nenek jalan aja udah susah! Lw malah nyuruh Gw waspada. Waspada dari apa? Keegoisan lw? Ketidakpedulian lw? Bullshit!"

Si nenek antara nggak mau atau nggak ngerti waktu Gw bilang mau bersihin lukanya. Ini karena Gw ngga bisa bahasa Sunda. Si nenek cuma pake baju selembar, jadi hati-hati Gw pakein jaket Gw ke si nenek. Selama Gw nemenin si nenek jalan, orang-orang di sekitar Gw cuma ngeliatin aja. Bahkan ada yang ngasih Gw peringatan buat waspada sama barang bawaan Gw. Dude! Ini nenek jalan aja udah susah! Lw malah nyuruh Gw waspada. Waspada dari apa? Keegoisan lw? Ketidakpedulian lw? Bullshit! Setelah Gw temenin berjalan berputar-putar, jam 6 si nenek balik lagi ke IPB BS. Karena pandangan mata yang sepertinya tidak sampai 2 meter, dia berjalan ke arah portal keluar. Untung bapak satpam penjaga pos pengertian dan membuka portal. Langsung bapak satpam itu saya minta untuk menghubungi Dompet Dhuafa yang nomornya saya dapat dari Poppy (thanks dear :*). Si bapak menghubungi, tapi nomor Dompet Dhuafa Jawa Barat tidak dapat dihubungi. Akhirnya Gw kembali mengejar nenek itu. Gw pun ngobrol dengan satpam lainnya untuk menjaga agar nenek itu tetap dipantau, karena Gw akhirnya cuma sms Dompet Dhuafa dan berharap akan ada yang datang ke sana. Lalu Gw pergi sebentar buat tanya di mana mesjid, karena waktu Maghrib udah tiba. Setelah tau, waktu mau cari nenek itu lagi, dia udah nggak bisa ditemuin lagi. Mungkin satpam buka gerbang belakang supaya si nenek bisa keluar. Entahlah...
Akhirnya setelah itu Gw shalat Maghrib dan berdoa supaya itu nenek nggak kenapa-kenapa. Lalu Gw pulang lagi ke Jakarta.

Apa yang mau Gw bagi di sini? Pertama, kekecewaan Gw pada sebagian besar masyarakat. Ada nenek kayak gitu dan lw cuma melihat dari jauh? DAN INI TERJADI DI ANTARA IPB DENGAN BOTANI SQUARE, PERBATASAN ANTARA KAUM INTELEK DAN KAUM BERKECUKUPAN. Apakah mereka kaum intelek hanya bisa melihat? Proposal penelitian begitu rumit terpikirkan oleh mereka, tapi hal seperti ini? Dan mereka yang berkecukupan, apakah sekadar memberi uang pada nenek itu menyelesaikan masalah? Nenek itu bahkan tidak mengerti jika dirinya harus dirawat. Uang bukan segalanya. Kedua, kekecewaan Gw pada diri Gw sendiri. Andai Gw saat itu sudah kaya, pastinya akan ada lebih banyak lagi yang bisa Gw lakukan. 

"DAN INI TERJADI DI ANTARA IPB DENGAN BOTANI SQUARE, PERBATASAN ANTARA KAUM INTELEK DAN KAUM BERKECUKUPAN"

Ya Allah, muslim yang kuat lebih baik dari muslim yang lemah. Kuat dan lemah ini bisa apa saja, termasuk ekonomi. Kalau rezeki Gw lebih, pasti nenek itu sudah dirawat di RS PMI yang notabene dekat dari lokasi. Pasti keadaan si nenek bakal jauh lebih baik. Inilah motivasi utama Gw untuk kuat secara ekonomi; agar ngga cuma membantu dengan doa, tapi juga materi. Ketiga, stigma buruk ketika akan menolong orang. Ada yang ingin menolong, tetapi takut jika yang ditolong adalah penipu. MasyaAllah, jika niat kita baik, InsyaAllah akan ada pertolongan dan perlindungan dari Allah. Dan menganggap nenek seperti itu bisa menipu, sungguh kejam. Jika akan mencuri, di mana dia akan menaruh barang curiannya? Bajunya saja hanya sebuah dress hijau. Berjalan saja susah, apalagi berlari.

Akhir kata, Gw berharap semoga kisah yang Gw bagi ini bermanfaat. Mohon buat temen-temen yang baca cerita ini untuk dibagi ke teman lainnya, mungkin ada yang melihat nenek itu. Dan juga agar kita tidak menjadi orang yang dibutakan oleh kepintaran dan harta kita.

Nek, semoga kamu selamat. Maafkan aku yang tidak mampu melakukan apapun :'(

Saturday, 2 March 2013

Pelantikan Satli

Nah ini dia. Welcoming party punya Himpro Satwaliar FKH IPB. Kayaknya gw ngga pernah ngelewatin pelantikan dari angkatan 44 sampe 48. Pelantikan kali ini diadakan di bumi perkemahan Barubolang, TN Gn. Pangrango. Acaranya tanggal 23-24 Februari 2013.

Suasana sebelum keberangkatan.

Liat time stamp-nya? Yap, jam 2 pagi. Seumur-umur, ini paling pagi kita berangkat buat pelantikan. Salut deh buat calon anggota Satli dan panitia serta senior lain yang ikutan pagi-pagi ini.

Jam 3:55 kita sampai di titik terjauh truk bisa masuk.

Yap, kita ke sana naik truk. Kenapa truk? Karena kalau nyewa avanza mahal Supaya kita bisa lebih berbaur sama temen-temen satu truk. Dan juga lebih murah,, hahahaha...

Outbound di sungai. Sampe-sampe muka ngga kekontrol.

Kegiatan di sana bermacam-macam. Ada outbound, pengenalan satwaliar dan yang berkaitan, dan pengenalan medan pengamatan.
Apa yang paling seru pas di sana? Makannya dong, haha...

Mode dewa, 4 orang makan satu piring penuh nggak sampe 1 menit

Prosesi pelantikan anggota baru dilakukan pagi-pagi setelah jurit malam. Setelah dapet banyak ilmu dan wejangan dari senior, para calon anggota siap untuk dilantik.

Udah pada rapi ni kakaa~ Udah siap buat dilantik

Pelantikan diawali dengan penyematan syal pada anggota baru yang diikuti penghormatan pada bendera Himpro Satwaliar. Penyematan dilakukan oleh para senior yang hadir. Pada saat ini, senior yang hadir berasal dari angkatan 46 sampai 41. Itulah namanya kekeluargaan, yang udah di mana-mana tetep ngusahain dateng :')

Penyematan syal pas giliran gw.

Akhirnya beres sudah rangkaian acara Pelantikan Anggota Baru Himpro Satwaliar FKH IPB. Semoga temen-temen anggota baru bisa membawa Himpro Satli menjadi lebih berjaya.

SALAM LESTARI!

Pojok Random